Malam ini kubangun mimpi berharap besok menjadi matahari
yang terjaga di jendela membakar segala kelam dan dinginnya
malam lalu sunyi menjadi reruntuhan purba sebab nyanyian pagi bersamamu,
senandung lautan itu telah mengubah peradaban cintaku.
Pagi ini kubangun dari mimpi O,
perempuan yang menggenggam kelopak bunga yang terjaga di jendela hatiku
yang merebahkan tubuhnya dan kukecup wangi keningnya bukankah kautemukan bahwa setiap pagi pada dekapan di dada selalu ada matahari yang membara untukmu
pencarian
Senin, 30 Januari 2012
Terimakasih karena Mencintaiku
karena Mencintaiku
Terimakasih karena mencintaiku
membiarkan matahariku memeluk hangat dirimu
merestui hadirku di pagimu
membiarkan hatimu
ikhlas menjadi istana bagi hatiku
membiarkan matamu
tempat paling sejuk untuk jiwaku berteduh.
Terimakasih karena mencintaiku.
Tak Kenal Waktu
Tak Kenal Waktu Tak Kenal Waktu Jam berapa sekarang? Entahlah,
jam hanyalah dongeng yang galau pada waktu.
Detak jantungku tak kenal waktu, berdebar merindu ruh dan tubuhmu.
Kamu ladang tempat tumbuh kata dan rayu.
Membuat sajakku menggelinjang berlumur rindu.
Kulepas metaforamu hingga telanjang, hurufhurufku menyelimutimu bak kabut pagi.
Menunggu matahari terbit di celah rumpun alismu.
Percakapan begitu hangat, begitu khidmat.
Bersamamu aku lupa waktu.
Sekali lagi, jam berapa sekarang? Entahlah, apakah kita perlu bicara waktu.
Cinta tak kenal waktu. Cinta tak punya usia.
Ruhku yang bahagia adalah jiwamu di sajakku, selalu remaja.
Begitu enerjik.
Keringat menetes dari kalimatkalimat cinta, mengalir deras di antara senyum dan tatapan.
Aku hanyut ke dalam sungaimu.
Ikhlas tenggelam di palung hatimu.
Jam berapa sekarang? Entahlah, apakah beda siang dan malam.
Bersamamu warna langit representasi citra wajahmu.
Bintangbintang adalah butir airmatamu di langitku, petunjuk abadiku.
Kemana lagi aku akan berlalu, sedangkan kampung halamanku adalah hatimu.
jam hanyalah dongeng yang galau pada waktu.
Detak jantungku tak kenal waktu, berdebar merindu ruh dan tubuhmu.
Kamu ladang tempat tumbuh kata dan rayu.
Membuat sajakku menggelinjang berlumur rindu.
Kulepas metaforamu hingga telanjang, hurufhurufku menyelimutimu bak kabut pagi.
Menunggu matahari terbit di celah rumpun alismu.
Percakapan begitu hangat, begitu khidmat.
Bersamamu aku lupa waktu.
Sekali lagi, jam berapa sekarang? Entahlah, apakah kita perlu bicara waktu.
Cinta tak kenal waktu. Cinta tak punya usia.
Ruhku yang bahagia adalah jiwamu di sajakku, selalu remaja.
Begitu enerjik.
Keringat menetes dari kalimatkalimat cinta, mengalir deras di antara senyum dan tatapan.
Aku hanyut ke dalam sungaimu.
Ikhlas tenggelam di palung hatimu.
Jam berapa sekarang? Entahlah, apakah beda siang dan malam.
Bersamamu warna langit representasi citra wajahmu.
Bintangbintang adalah butir airmatamu di langitku, petunjuk abadiku.
Kemana lagi aku akan berlalu, sedangkan kampung halamanku adalah hatimu.
"kupersembahkan padamu"
kupersembahkan padamu
kupersembahkan padamu padamu sekuntum ciuman segar dalam buket bunga kesukaanmu:
aster, krisan dan sejumlah mawar sebuah puisi kusematkan dalam sebuah lembar pagi
terasa spesial kurasakan jendela hati terbuka lebar.
Seperti kau memahami bait puisi ia bukan sembarang bahasa –
tetapi sehela nyawa puisi tidak disusun untuk epitaf peresmian puisi menghidupkan kata demi kata dan menuntaskannya sebagai doa.
Seperti aku tenggelam di matamu seluruh hatiku sibuk mengeja lembar pustaka pun mulutku tak sanggup bicara sedang tanganku
diamdiam sibuk memeras sarikata yang kadang menyelinap dalam remas jemarimu.
Puisi mengembara perjalanan tersembunyi mengarungi samudera
di ombak tatapanmu baitbaitnya terurai dalam tiap derai bulumata menciumi pantaipantai semampai di lekuk tubuhmu lihatlah jejak kakiku, hanyut selalu bersamamu.
kupersembahkan padamu padamu sekuntum ciuman segar dalam buket bunga kesukaanmu:
aster, krisan dan sejumlah mawar sebuah puisi kusematkan dalam sebuah lembar pagi
terasa spesial kurasakan jendela hati terbuka lebar.
Seperti kau memahami bait puisi ia bukan sembarang bahasa –
tetapi sehela nyawa puisi tidak disusun untuk epitaf peresmian puisi menghidupkan kata demi kata dan menuntaskannya sebagai doa.
Seperti aku tenggelam di matamu seluruh hatiku sibuk mengeja lembar pustaka pun mulutku tak sanggup bicara sedang tanganku
diamdiam sibuk memeras sarikata yang kadang menyelinap dalam remas jemarimu.
Puisi mengembara perjalanan tersembunyi mengarungi samudera
di ombak tatapanmu baitbaitnya terurai dalam tiap derai bulumata menciumi pantaipantai semampai di lekuk tubuhmu lihatlah jejak kakiku, hanyut selalu bersamamu.
Langganan:
Postingan (Atom)



